Kenapa kita berhenti bertanya?

“Baiklah, apakah ada pertanyaan?” sang dosen bertanya sebelum mengakhiri kuliahnya hari itu. Lalu, menatap satu demi satu mahasiswa kesayangannya. Berharap salah satu diantara mereka mengangkat tangannya dan menyampaikan pertanyaannya. Semenit, dua menit, dan lima menit pun berlalu. Namun, dari semua mahasiswa hanya satu yang mengangkat tangannya, itupun orang yang sama setiap harinya. Dan setelah itu, tak ada lagi tangan-tangan berani yang penuh rasa ingin tahu. Ada dua alasan yang ada dalam pikiran sang dosen. Pertama, mereka sudah mengerti semua atau yang kedua, mereka bingung (tak mengerti sama sekali). Hehe..

Yah, hari demi hari aku menyadari bahwa keinginan kita bertanya semakin menurun (termasuk diriku ^^’). Entah pergi kemana rasa ingin tahu kita. Bukankah saat kita masih kecil dulu, betapa besar rasa ingin tahu kita. Kita selalu bertanya,”mengapa begini? Kok bisa begitu? Apa yang terjadi?” pertanyaan-pertanyaan simple yang kadang membuat orang tua kita terpaksa membuka wawasannya juga. Tapi, semangat itu mengendur seiring beranjak dewasanya kita. Kita menjadi kurang bersemangat untuk bertanya. Bertanya tentang apa saja.

Semakin kita dewasa, semakin banyak hal yang kita pertimbangkan sebelum kita lakukan. Termasuk memilah dan memilih pertanyaan, “sudah sesuaikan caranya? Sudah benarkah pertanyaannya?” pertimbangan-pertimbangan itu membuat kita semakin lama berpikir, sehingga kesempatan bertanya terlewat begitu saja dan kita hanya membawa pulang rasa penasaran. Tapi semakin sering kita tidak mengambil kesempatan bertanya, kita menjadi terkompensasi untuk tidak menjadi penasaran.

Aku pun begitu, selalu melewatkan kesempatan bertanya. Jika aku mempunyai pertanyaan, aku hanya akan memendamnya karena setiap ingin mengajukan pertanyaan, jantungku berdegup kencang, tanganku mulai dingin lalu basah karena keringat. Astaga, belum apa-apa sudah begini yang aku rasakan. Padahal bertanya itu gratis, tak ada yang akan menagih kita untuk membayar pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan. Kadang rasa malu muncul karena simpelnya atau sederhananya pertanyaanku, atau ketakutan yang sebenarnya belum terjadi membuatku malas bertanya. Menyesal sudah pasti karena ternyata masih banyak hal yang semakin tidak aku ketahui.

Padahal dari bertanya kita belajar, kita tahu sejauh mana pengetahuan kita sehingga sejauh apa kita perlu melangkah lagi untuk mempelajarinya. Selain itu, bertanya menguji kemampuan kita merecall hal-hal yang sudah kita pelajari sebelumnya. Sehingga ilmu itu akan tertanam lebih kuat.

Ya, mulai sekarang mari kita coba untuk budayakan kembali kebiasaan bertanya.

Bertanyalah sebelum kamu ditanya.. ^^

~ oleh happycatz pada November 12, 2010.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.